<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <atom:link href="http://sammu.yolasite.com/story/archive/2011/story.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
        <title>story</title>
        <description>story</description>
        <link>http://sammu.yolasite.com/story/archive/2011/story.php</link>
        <lastBuildDate>Sat, 13 Jun 2026 07:26:48 +0100</lastBuildDate>
        <generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
        <item>
            <title>Namaku Zakheus</title>
            <link>http://sammu.yolasite.com/story/archive/2011/story/namaku-zakheus</link>
            <description>


	
	&lt;title&gt;&lt;/title&gt;
	&lt;meta name=&quot;GENERATOR&quot; content=&quot;OpenOffice.org 2.4  (Linux)&quot;&gt;
	

&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;NAMAKU
ZAKHEUS&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Aku
Zakheus, atau orang sering memanggilku si pendek, si pemeras, si
pemungut cukai, si jahat, orang berdosa, dan huh... masih banyak
lagi. Aku sangat terkenal di kotaku, tapi terkenal bukan karena
sesuatu yang baik dalamku, tapi karena kelakuanku yang jahat di mata
mereka. Mereka menganggapku pemeras. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Kaya?
Tentu saja aku sangat kaya. Aku punya banyak harta dan kekayaan.
Hidupku tak pernah kekurangan, segala sesuatu dapat ku peroleh lewat
hartaku. Tapi semuanya itu tidaklah membuat hari-hariku menyenangkan.
Sesungguhnya jauh di lubuk hatiku aku sangat menderita, terluka dan
tertekan. &lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Hampir setiap malam mungkin aku tidak
bisa tidur, selalu murung dan tidak selera makan. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;Ya
walaupun makananku adalah makanan-makanan istimewa dan tentu saja
sangat lezat, tapi semuanya itu tidak membuat nafsu makanku muncul.
&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Tiap hari, hanya anggurlah yang menemani
malam-malamku yang teramat panjang rasanya. &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Satu
hal yang tidak pernah bisa ku peroleh dari hartaku adalah kasih
sayang. Aku rindu disayangi. Aku sudah bosan mengalami penolakan
terus-menerus, dicaci maki, dan dimusuhi. Tak satupun orang yang mau
bergaul denganku, aku dikucilkan dari masyarakat.	&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Aku hampir putus asa.
Terkadang aku memilih untuk lebih baik mati dari pada harus menjalani
hidup yang sungguh sangat mengerikan seperti ini.  Tapi entah mengapa
niat itu tak pernah kulakukan.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Sampai suatu hari, aku mendengar kabar bahwa
seseorang yang akhir-akhir ini sedang naik daun namanya akan datang
melewati kotaku, Yerikho. Sudah cukup sering aku mendengar tentang
orang ini. Katanya orang ini sanggup melakukan banyak mujizat,
terlalu banyak malah. Dan katanya orang ini melakukan banyak mujizat
hanya dengan perkataannya saja. Iblispun takut menghadapinya.
Astaga...orang seperti apakah dia ini? Aku sangat penasaran dengan
orang ini. Rasa penasaranku semakin hari semakin tak terbendung.
Entah apa namanya, tapi hatiku meyakini ada sedikit harapan, jika aku
mengenalnya atau minimal melihat wajahnya. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Aku
terus menanti akan kedatangan orang ini. Menanti dengan harapan dan
kecemasan.  Harapan untuk setidaknya dia melakukan sedikit mujizat
untukku. Dan kecemasan jika ternyata orang ini tidak jadi melewati
kotaku.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Suatu
malam, aku tertidur karena meneguk terlalu banyak anggur. Begitu
pulas sehingga aku tak tahu lagi keadaan disekitarku. Tiba-tiba aku
bermimpi berada dalam sebuah gua yang sangat gelap dan kotor.
Kemudian aku melihat ada seberkas cahaya di ujung gua. Dengan hati
yang luar biasa bersemangat, aku bergerak mendekati cahaya itu. Aku
berlari, berlari  dan terus berlari. Guanya terlalu gelap, kakiku
yang kecil tak mampu melewati tiap-tiap kerikil besar dengan mulus.
Beberapa kali aku jatuh tersandung dan berdarah, namun hatiku tak
menyerah untuk segera mendekati cahaya di ujung gua itu. Dengan sisa
tenaga yang ada, ku seret kakiku yang berdarah dan sepertinya
terkilir, hingga akhirnya aku berhasil mendapati cahaya di ujung gua
itu. Ternyata cahaya itu berasal dari langit cerah yang terhampar di
hadapanku. Matahari bersinar menghangatkan tubuhku. Aneh, sepertinya
sudah ribuan tahun aku tinggal dalam gua itu, tidak melihat cahaya,
melihat langit secerah ini, melihat mentari tersenyum dan
menghangatkanku.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Aku begitu gembira sampai membuatku
berteriak-teriak dan melompat dengan riangnya. Seperti telah bebas
dari penjara saja. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Keesokan
paginya  aku bangun, dan tersenyum. Ya…tersenyum, hanya itu yang
bisa kulakukan untuk mengekspresikan betapa senangnya aku mendapat
mimpi itu. Aku tak peduli apa mimpi ini ada karena aku terlalu banyak
minum anggur, yang jelas aku sepertinya mendapat kekuatan baru untuk
menjalani hari-hariku sebagai…yah…_dengan berat hati aku akan
mengatakannya_ pemungut cukai.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Akhir-akhir
ini aku sepertinya tidak terlalu suka lagi dengan pekerjaanku ini.
Aku merasa semua tekanan yang ku alami berasal dari pekerjaan
menyebalkan ini walaupun aku tidak memungkiri akan keuntungan yang ku
peroleh dari pekerjaan ini. Sudah lama aku tidak dipanggil dengan
nama “Zakheus” lagi. Selalu saja mereka menyebutku dengan
nama-nama hinaan. Aku sangat sedih, aku rindu ada yang memanggilku
dengan menyebut namaku. Kalaupun ada yang memanggil aku dengan nama
“Zakheus”, pasti dibelakangnya ada kata “si pemungut cukai”
seolah-olah itu adalah margaku. Apa sebutan itu akan terus menempel
dalam hidupku? Adakah orang yang akan menghargai aku dan menerima aku
apa adanya? Ini hidupku, adakah yang mau memahaminya? Aku lelah
dengan semua ini. Aku muak dengan pekerjaanku!.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Ditengah lamunanku, aku dikejutkan oleh suara
orang-orang ramai diluar sana. Segera aku beranjak keluar untuk
melihatnya. Aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kulihat malah
kerumunan orang-orang yang tidak jelas entah melihat apa. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Aku
bertanya pada orang terdekat di sampingku, seorang anak kecil yang
ukuran tubuhnya hampir sama denganku. Untungnya masih aku yang
sedikit lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	“Apa
yang terjadi?” &lt;/span&gt;Tanyaku&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;“Entahlah,
tapi kata Ibuku, seseorang bernama Yesus dari Nazaret sedang menuju
kemari.”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;“Benarkah
itu?” Tanyaku lagi memastikan. &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Jantungku benar-benar berdebar dengan keras. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Tiba-tiba anak itu sudah pergi ditarik oleh
seorang wanita. Wanita itu menatapku dengan pandangan bermusuhan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Aku tak peduli dengan perlakuan itu. Jantungku
malah berdegup semakin tak karuan mendengar kabar itu. Mataku
berbinar-binar menatap kumpulan orang-orang yang sedang menantikan
kedatangan orang yang disebut Yesus ini. Ya…dialah  orang yang
sangat aku nanti-nantikan akhir-akhir ini dan saatnya telah tiba,
hari ini!&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Karena ukuran tubuhku yang
pendek, aku tak dapat melihat dengan baik keadaan di sekelilingku.
Yang bisa kulihat hanya seonggokan tubuh-tubuh besar didepanku. Aku
tak bisa melihat lebih jauh ke depan. Tapi itu tak membuatku
kehabisan akal. Dengan cepat aku menarik seorang pria gemuk di
dekatku sehingga ia menoleh ke bawah.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Hai pria besar. Bisakah kau membantuku melihat
orang itu? Sudah lama aku ingin melihatnya.”&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Hai pria pendek, aku terlalu sibuk untuk bisa
membantumu. Maafkan aku!”&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Sedih mendengar jawaban itu,
aku berusaha mencari cara lain. Dari kejauhan aku melihat sebuah
pohon ara dengan cabangnya yang banyak. Nalurikku membuatku nekat
menerobos badan-badan besar yang sedari tadi menghalangi pandanganku.
Dengan bersusah payah akhirnya aku sampai juga dekat pohon ara
tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Memanjat. Aku mulai memanjat pohon ara itu dengan
kakiku yang kecil. Memanjat dan terus memanjat, sampai aku tidak tahu
sudah berapa luka goresan di kakiku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Jerih payahku ternyata tidak sia-sia. Kini aku
berhasil berada di puncak pohon itu dan meraih salah satu batang yang
kokoh dan memeluknya. Kini yang ku lakukan hanya menanti, diiringi
degup jantungku yang kian keras saja bunyinya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Teriakan orang-orang di
bawahku semakin riuh ketika sosok yang ditunggu-tunggu itu, Yesus,
mulai muncul dari ujung jalan. &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Wah..!” Teriakku tertahan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Hanya itu kata-kata yang sanggup aku ucapkan
ketika untuk pertama kalinya aku melihat wajah Yesus, Semakin Yesus
melangkah mendekati pohon ara semakin hatiku tidak karuan rasanya.
Semakin erat aku memeluk batang pohon itu, menahan gejolak yang ada
dihatiku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	“Zakheus…” Tiba-tiba seseorang berteriak.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Mendengar teriak itu, badanku langsung lemas.
Siapakah orang yang memanggilku dengan nama yang selama ini tak
pernah ku dengar lagi?&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Aku
mencari arah suara itu. Dan ternyata itu Yesus! Yesus yang
memanggilku. Tanpa ku sadari ternyata dia sudah berada di bawahku.
Tapi bagaimana bisa dia mengetahui namaku? Aku tidak pernah bertemu
sebelumnya dengan dia apalagi sampai berkenalan? Apakah ini mujizat
yang aku cari?&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	“Segeralah turun, sebab hari ini aku akan
menumpang di rumahmu.” Kata Yesus lagi..&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
 &lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Semakin lemas badanku melihat
Yesus tersenyum padaku dan menginginkan  untuk singgah di rumahku.
Aku tak mampu lagi berkata apa-apa saking senangnya. Satu lagi
mujizatnya ku dapat. Apalagi ketika aku melihat matanya dan
senyumannya, betapa melonjak gembiranya hatiku seolah-olah sudah lama
sekali kami tidak bertemu, seperti seorang sahabat lama saja rasanya.
&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;Hanya satu kata: “damai”. Itu yang aku
rasakan ketika melihat matanya.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Segera aku turun dari pohon ara itu. Semua mata
memandangku dan membuatku merasa sangat canggung untuk turun.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;	Aku
tak peduli, langsung aku mendekati Yesus dan memegang tangannya,
menuntunnya ke rumahku yang memang tidak terlalu jauh lagi dari pohon
ara itu. Ketika sampai di depan rumahku, dengan sigap aku langsung
membukakan pintu dan memerintahkan pelayan-pelayan di rumahku untuk
menyiapkan santapan istimewa.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Ketika hidangan sudah disajikan, semua duduk
melingkar dihadapan meja besar tempat makanan diletakkan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;	“Zakheus,
kemarilah, duduklah di sampingku dan makanlah bersamaku.” &lt;/span&gt;Kata
Yesus.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Astaga…satu
lagi mujizat aku dapat, aku bisa duduk makan di samping orang yang
luar biasa ini. &lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Dengan malu-malu aku datang
mendekati Yesus dan duduk di sampingnya. Ku pandangi orang-orang
disekelilingku. Semua diam menundukkan kepala. Wajah-wajah murung
mulai menghiasi ruangan di sekelilingku. &lt;/span&gt;Apa yang terjadi? 
Apa hidangan ini kurang istimewa? Atau…&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Aku
menjadi sangat gelisah. Kulihat Yesus disampingku, tapi dia tetap
sibuk dengan makanannya. Tampaknya dia sangat menikmatinya. Hal ini
membuatku sedikit tenang. Sayangnya ketika aku kembali menoleh ke
sekelilingku, perasaanku berubah lagi, membuatku  menjadi tidak
bernafsu menyantap makanan di hadapanku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Apa
yang menyebabkan orang-orang ini murung dan tidak menyentuh
sedikitpun makanan yang disajikan? Air mataku hampir saja menetes
melihat keadaan ini. Dan tiba-tiba seorang dari mereka berdiri dan
berteriak:&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	“Ia menumpang di rumah orang berdosa!”&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Jantungku hampir putus mendengar teriakan itu.
Pedih rasanya…ku lihat Yesus masih terlihat tenang dengan
makanannya. Seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan terjadi.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Pikiranku kalut, aku begitu takut jika Yesus
akhirnya pergi meninggalkanku.  Aku takut Yesus ikut membenciku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Aku
menatap Yesus disampingku. Dia sudah berhenti makan dan mulai
menatapku juga. Menatapku dengan lembut, sangat lembut. Membuatku tak
tahan untuk tidak meneteskan air mata. Seolah-olah dari matanya aku
bisa mendengar dia sedang berkata: “Zakheus, aku mengasihimu.”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Dia
menggenggam tanganku sejenak seakan hendak menguatkanku. Dan memang
setelah itu aku merasa begitu kuat dan sangat bahagia. Aku bangkit
berdiri dan tidak peduli akan pandangan-pandangan menyebalkan
disekelilingku, tak peduli lagi akan bisikan-bisikan menyesakkan yang
terdengar di ruangan itu.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;Aku melangkah menuju dinding  yang dihiasi kain
merah , membukanya dan mengeluarkan semua uang yang ada di dalamnya.
Dengan susah payah, aku peluk semua kantong-kantong uang itu dibalik
jubahku. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	“Tuhan,
setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang-orang miskin dan
sekiranya ada sesuatu yang ku peras dari seseorang akan ku kembalikan
empat kali lipat”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	Segera
aku mendekati semua orang yang datang ke rumahku, kubagi-bagikan uang
yang kupegang itu. Tak lupa aku juga membagikan sedikit lebih banyak
pada orang-orang miskin yang juga turut menyaksikan kedatangan Yesus
di rumahku.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	Melihat apa yang aku lakukan, Yesus langsung
bangkit berdiri dan berseru:&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;	&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;“Hari
ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun
anak Abraham...” &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;	&lt;/span&gt;Mendengar
pernyataan Yesus itu, aku langsung bertekuk lutut dan tersungkur di
bawah kaki Yesus. &lt;span lang=&quot;sv-SE&quot;&gt;Kakiku seperti tidak mampu lagi
menopang berat badanku. Yang kulakukan hanyalah menangis, menangis,
dan menangis. Rasanya batu besar yang selama ini menekanku terangkat
sudah. Aku merasakan kelegaan yang luar biasa. &lt;/span&gt;Belum pernah
aku merasakan sukacita sebesar ini...&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	“Sebab
Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”
Kata Yesus lagi sambil memelukku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Purisa&quot;&gt;	&lt;span lang=&quot;fi-FI&quot;&gt;Sejak
peristiwa itu, aku tahu satu hal. Yesuslah yang paling aku butuhkan
dalam hidupku, bukan uang, bukan kekayaan. Dan aku telah menemukan
yang terpenting itu dalam hidupku, Yesus. &lt;/span&gt;Hidupku berubah
sejak aku bertemu Yesus. Terimakasih Tuhan Yesus...&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
</description>
            <pubDate>Wed, 04 May 2011 07:49:27 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Di Gereja Itu</title>
            <link>http://sammu.yolasite.com/story/archive/2011/story/di-gereja-itu</link>
            <description>


	
	&lt;title&gt;&lt;/title&gt;
	&lt;meta name=&quot;GENERATOR&quot; content=&quot;OpenOffice.org 2.4  (Linux)&quot;&gt;
	&lt;style type=&quot;text/css&quot;&gt;
	&lt;!--
		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
		P { margin-bottom: 0.08in }
	--&gt;
	&lt;/style&gt;

&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;center&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;DI GEREJA ITU...&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Aku melangkah
dengan terburu-buru. Rasanya sudah tidak sabar ingin mendengarkan
Firman Tuhan dan menyembah-Nya. Ya.. itu yang aku rasakan waktu itu,
saat dimana aku untuk pertama kalinya mendapat pekerjaan sebagai
seorang sales disebuah perusahaan yang tidak terlalu terkenal dan
jauh dari kota kelahiranku. Di sana aku bingung mau beribadah dimana,
soalnya lingkungan itu masih terlalu asing bagiku. Kota itu  pun
memang baru pertama kalinya aku kunjungi. Begitu melihat sebuah
plakat gereja bertuliskan “Eibisi Church 100 meter lagi”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
langsung saja aku kemudikan sepeda motorku menuju lokasinya. &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Astaga! Sesampainya disana ternyata
ibadah telah dimulai. Dari luar gerbang gereja terdengar lagu-lagu
pujian yang megah dan suara sorak-sorai jemaat yang sedang menyembah.
Hatiku sudah tidak sabar lagi ingin bergabung dengan mereka, lagipula
sepertinya gereja ini asyik juga, halamannya bersih sekali. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Begitu memasuki halaman gereja,
suasana teramat damai  langsung terasa. Membuat aku ingin bernyanyi
sekencang-kencang dan semerdu-merdunya buat Tuhan. Hebat..! Dari luar
saja hadirat Tuhan begitu terasa, apalagi pada saat ibadah nanti, aku
yakin akan lebih dahsyat lagi..! Pikirku dalam hati sambil menuju ke
parkiran.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;	Setelah
menemukan posisi parkir yang bagus, langsung saja aku masuk ke dalam
gereja. Sepertinya lututku ingin berlari agar cepat sampai, tetapi
aku berusaha untuk tetap tenang karena jika aku sampai keringatan
masuk ke gereja bisa berbahaya.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Begitu kepalaku
menyusup memasuki pintu gereja, astaga! Jemaatnya banyak sekali,
jangan-jangan aku akan berdiri terus sepanjang ibadah nanti karena
tidak mendapat kursi. Tapi untung saja para pengerjanya tanggap
semua. Mereka langsung menawarkan satu kursi disudut belakang
untukku. Dengan semangat '45 aku berterimakasih kepada mereka.
Sepertinya mereka tau kalo aku baru pertama kalinya ikut beribadah di
sini, kelihatan sekali dari cara mereka yang teramat ramah
terhadapku.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Begitu aku sudah duduk, aku  heran,
suasananya berbeda. Suasana damai yang aku rasakan di parkiran tadi
sepertinya hilang begitu saja. Aku kira suasana damai itu akan lebih
dahsyat kalau sudah di dalam gereja, tapi nyatanya damai itu
sepertinya tidak ada. Sirna begitu saja..&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Sepanjang ibadah, aku sama sekali
tidak nyaman mengikutinya. Seperti ada yang berbeda dalam diriku, ya
itu terasa sekali, dan tidak biasanya aku seperti ini. Tanpa henti
aku bertanya pada Tuhan apa yang terjadi dalam diriku, kenapa aku
malah tidak bisa merasakan hadirat Tuhan di gereja ini. Apa aku belum
mengakui dosaku? Tapi sepertinya hubunganku dengan Yesus baik-baik
saja . Tuhan beri tahu aku apa yang salah dalam diriku..&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;	Sepulang
dari ibadah aku terus bertanya-tanya pada Tuhan apa yang terjadi
padaku, tapi Tuhan sepertinya tidak merespon sama sekali. Ya sudah
aku mencoba berpikir positif, mungkin aku lagi kecapaian. Baru
semalam aku tiba di kota ini, perjalanan dua hari dalam bus sungguh
sangat menguras tenaga. Belum lagi aku harus tidur jam 2 pagi, karena
tersesat..he..he..tetapi   aku bersyukur karena dengan mengalami hal
ini aku melihat Tuhan setia menolong aku, aku jadi bertambah yakin
kalau Dia selalu menjagaku. Terimakasih Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;Tidak terasa sudah seminggu aku
tinggal di kota ini. Kehidupan yang ku jalani memang agak berbeda.
Aku sekarang seorang sales. Setiap hari aku jarang di rumah kontrakan
ku yang kecil, kebanyakan di luar menghadapi konsumen yang rata-rata
pelit semua..he..he..tidak mau beli soalnya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;	Dan
hari minggu pun datang lagi, aku sudah tidak sabar  untuk  datang ke
gereja yang kemarin. Hari ini aku tidak boleh telat. Langsung aku
beres-beres dan bergegas ke gereja yang kemarin.  &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Antara sadar dan tidak, aku ternyata
lupa lokasi gerejanya. Memang kemarin itu aku mencarinya asal saja,
tidak melihat rambu jalan yang penting dapat gereja. Seingatku
jalan-jalannya banyak masuk gang, belok kiri belok kanan
dan...astaga! Aku lupa sama sekali. Bagaimana ini..? Apa aku harus
mencari gereja yang lain lagi? Tapi aku ingin di situ lagi. Entah
kenapa hatiku begitu menggebu-gebu untuk ibadah disitu lagi.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Lama berpikir sambil berkeliling
tidak tentu ke mana sampai  hampir menabrak ayam orang, akhirnya aku
teringat kalau kemarin penerima tamu yang ramah sekali itu memberikan
kartu alamat gerejanya padaku. Untung saja aku masih menyimpannya
dalam dompetku. Segera aku hentikan sepeda motorku dan mengambilnya
dari dompetku. Kulihat alamatnya ternyata di jl. Perjanjian 12.
Astaga  dimana pulakah jalan perjanjian ini ya? &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Tanpa pikir panjang aku langsung
menemui seorang wanita gemuk yang sedang duduk di halte bis.
Sepertinya dia akan ke gereja, kelihatan sekali dari Alkitab yang dia
pegang. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;	“Selamat
pagi &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;i&gt;mbak&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;..
jalan Perjanjian 12 dimana ya?”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Sesaat dia memperhatikan penampilanku
dari atas sampai  bawah, melirik motor ku dan mulai tersenyum
mencurigakan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	“Oh saya tahu, ini juga mau ke
sana. Kamu orang baru ya? Mau gereja juga kan? Kalau begitu bolehkah
saya  menumpang? Kita satu tujuan dan dari tadi bisnya tidak kunjung
datang padahal ini sudah telat. Boleh ya?” &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	“Oh..boleh, mari..” Kataku
mengajak.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;	Aku
sedikit takut memang, soalnya wanita ini besar sekali, takutnya aku
tidak mampu menjaga keseimbangan. Bukannya ke gereja malah ke klinik
karena kecelakaan nantinya. Tapi ya sudahlah, aku yakin aku harus
bisa. Kami pun mulai berkenalan.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Untung saja perjalanan tidak terlalu
jauh lagi, aku sepertinya agak kurang cocok dengan wanita ini,
percakapan kita dari tadi terasa sangat membosankan. Wanita ini malah
tidak bisa diam,  jadinya aku harus mendengarkan celotehnya sepanjang
perjalanan. Cuma bisa berkomentar seadanya, sekadar menghargai dia
karena  sudah mau menunjukkan gereja ini. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Sesampainya di gerbang gereja wanita
ini tiba-tiba menepuk-nepuk punggungku dengan kerasnya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	“Cukup disini saja. Jangan sampai
pacarku melihat aku dibonceng pria lain, nanti dia marah sekali.
Terimakasih sudah mau mengantarku.” Katanya sambil bergegas pergi.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Untuk kedua kalinya aku telat lagi.
Tapi syukurnya aku bisa sampai ke gereja dengan selamat. Terimakasih
Tuhan..&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Dan seperti minggu-minggu sebelumnya,
hadirat Tuhan itu begitu terasa dari luar gereja, apalagi lagu-lagu
pujian yang dilantunkan dari dalam gereja membuatku sudah tidak sabar
ingin segera beribadah. Segeraku parkirkan sepeda motorku di tempat
biasa. Ups..walau sudah tidak sabar ingin bersekutu, aku juga harus
tetap menjaga emosi, jangan sampai aku berlari dan akhirnya 
berkeringat. He..he..&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	“Wah Bapak, telat lagi..ayo pak
cepat..” Kata penerima tamu yang kemarin dengan senyum ramahnya
sambil menyodorkan selebaran warta jemaat.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	“Iya, tadi keliru di tengah
jalan..” Kataku sambil bergegas masuk.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Malu juga, tapi ya sudahlah yang
penting aku bisa tetap ikut ibadah.. cuma telat 15 menit saja
ternyata, pikirku dalam hati.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Dan lagi-lagi aku tidak mengalami
hadirat Tuhan sepanjang ibadah. Aku bingung, aku kenapa ya..? Kenapa
aku cuma merasakan hadirat Tuhan sebentar saja, itupun kalau sedang
di parkiran. Aku gelisah dan mulai keringat dingin. Aku mulai
memandangi sekelilingku, aku berpikir apa mereka juga mengalam hal
yang sama denganku. Namun sepertinya tidak, mereka semua kelihatan
sangat menikmati ibadah ini. Cuma aku yang hanya diam terpaku dan
tidak  tahu mau berbuat apa. Aku bertanya pada Tuhan, tapi sepertinya
 tidak ada jawaban. Aku jadi bertambah bingung..apa yang salah dengan
diriku..Tuhan aku mohon tolong aku..!&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;Sudah sebulan berlalu aku masih saja
beribadah di gereja yang sama. Entah mengapa hatiku selalu
menggebu-gebu kalau teringat gereja itu. Padahal aku merasa sepi di
sana, aku tidak merasakan  kehangatan hadirat Tuhan yang selalu aku
rasakan setiap kali  memarkirkan sepeda motorku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Sampai suatu minggu, aku kembali lagi
untuk beribadah ke gereja itu. Namun kali ini agak sedikit berbeda,
aku memutuskan untuk beribadah di parkiran saja, aku tidak tahan cuma
bisa terpaku saja melihat orang-orang yang ada di sana, aku juga
rindu beribadah seperti mereka, penuh dengan sorak-sorai penyembahan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;Sambil memastikan kalo parkiran telah
sepi, aku mulai mencari-cari posisi yang teduh untuk duduk. Dan
begitu ibadah dimulai, betapa luar biasa rasanya. Ya.. aku merasakan
kalau hadirat-Nya terasa sekali. Begitu hangat.. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Aku mulai memuji dan menyembah, air
mataku pun tanpa terasa mulai mengalir deras tak terbendung, aku
menangis tapi hatiku begitu bersukacita. Perasaanku begitu
meluap-luap. Baru kali ini aku mengalami hal ini. Aku terus menyembah
dan bernyanyi  untuk Allah, sampai badanku rasanya seperti
diguncang-guncang dengan kerasnya. Aku tidak sanggup mengendalikan
seluruh tubuhku, bahkan untuk bernyanyi saja sepertinya tidak
sanggup. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Badanku terus berguncang semakin
tidak beraturan dan suasana di sekitarku mulai terasa panas sekali.
Tiba-tiba mataku seperti didorong untuk terbuka. Aku mencoba melawan
namun tidak bisa, seperti ada yang memaksa mataku untuk terbuka. Dan
akhirnya aku membuka kedua mataku. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Astaga..apa yang aku lihat ini..? Aku
melihat tempat parkiran dipenuhi oleh asap yang sangat putih. Dan
tepat di hadapanku aku melihat sesosok putih yang sangat terang.
Rambutnya emas berkilauan dan wajahnya begitu bercahaya. Aku tidak
dapat dengan jelas melihat wajah-Nya, namun aku dapat merasakan Dia
sedang tersenyum memandangku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	“Selamat pagi anakKu. Ini Aku,
Tuhan dan Bapamu.”&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;	Mendengar
suara itu lututku terasa tidak sanggup lagi untuk berdiri. Rasanya
hatiku sangat meluap-luap mendengar suara-Nya. Sapaan-Nya membuat aku
sangat nyaman n merasa tersanjung sekali, ingin menangis saja
rasanya.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Son,&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
bolehkah Aku mencurahkan isi hatiku padamu?” Kata Tuhan Yesus
padaku.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Tuhan, suatu
kerinduanku boleh tahu isi hati-Mu” Kataku sambil terisak-isak
bahagia.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Kamu tahu
mengapa kamu selalu merasakan&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
hadiratKu hanya diluar gereja, sementara di dalam sepertinya kamu
tidak menemukanKu?”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Tuhan, aku
bingung&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;,
sudah sebulan aku beribadah di sini, tapi mengapa  aku merasakan
hadirat-Mu hanya saat di parkiran saja? Apa yang salah dalam diriku
Bapa, ampuni aku..” Kataku cemas.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Son, jangan
takut sayang. Kamu tahu apa yang terjadi dengan gereja ini?”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Tidak Tuhan, ada
apa dengan gereja ini&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
“&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Tiap minggu
mereka tekun beribadah, tapi tidak pernah mereka mengundang Aku untuk
masuk. Mereka hanya mengijinkan Aku hadir diluar pintu gereja. Mereka
menyembah Aku hanya untuk mengejar berkat, bukan karena merindukan
Aku. Padahal tiap saat Aku selalu merindukan jemaat-Ku di tempat ini.
Mereka hanya sibuk dengan urusan gereja, mereka seolah-olah tidak mau
tahu isi hati-Ku untuk mereka. Mereka sibuk memikirkan bagaimana
caranya mempertahankan jemaat agar tidak pergi ke gereja lain, sibuk
dengan program-program yang sebenarnya tidak perlu. Mereka paling
benci kalau sampai persembahan jemaat  sampai ke gereja lain, bukan
ke gereja mereka. Padahal Aku lebih senang dengan ibadah yang
walaupun sedikit yang menjadi jemaat, namun mereka betul-betul
mencari Aku, mengasihi aku, dan pasti Aku akan hadir di sana. Kamu
lihat,  jemaat di sini semua orang kaya, lihatlah mobil-mobil mewah
yang berderet rapi di parkiran. Itu semua Kuberikan agar mereka
melihat kebaikan-Ku. Tapi sepertinya mereka tidak tahu berterima
kasih. Bukannya bersyukur, malah lebih gila lagi memburu uang.
Sepertinya uang adalah segalanya bagi mereka. Lagi-lagi mereka datang
cuma untuk mengejar berkat-Ku. &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Aku sangat sedih
melihat jemaat-Ku saat ini. Padahal Aku sudah punya rencana besar
buat setiap orang dari mereka. Mereka akan menjadi pembuat sejarah
dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di tengah-tengah dunia ini. Namun
rencana itu selalu tertunda karena ulah mereka yang tidak peduli
dengan isi hati-Ku dan rencana besar-Ku buat mereka.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Son..ketahuilah, bahwa di akhir zaman
ini Aku akan membuat pemulihan besar-besaran diseluruh dunia melalui
gereja-Ku. Namun aku hanya akan memakai gereja yang siap dan
mengasihi-Ku.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Dan untuk menggenapi hal itu, Aku
akan terlebih dahulu melakukan transformasi di tubuh gereja-gereja
diseluruh dunia melalui hamba-hamba-Ku yang telah Ku pilih dari
segala bangsa sejak mereka dalam kandungan. Aku telah mencurahkan
visi itu di hati mereka. &lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	Son..kaulah salah satunya. Maukah
engkau Aku utus?”&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;
&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;	“Tuhan Yesus, suatu kemuliaan
bagiku bisa melayani-Mu Tuhanku,  ya..aku mau Tuhan. Ini aku Utuslah
aku..” Kataku sambil mulai menangis gembira.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; line-height: 200%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font face=&quot;Arial, sans-serif&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;	“Son
itu yang selalu Aku cari..hati seorang hamba yang mau taat. Dan saat
ini, persiapkanlah dirimu, sebab Aku akan mencurahkan urapan-Ku
kepadamu” Kata Tuhan sambil mulai menjamah kepalaku.       &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;
&lt;/p&gt;
</description>
            <pubDate>Tue, 03 May 2011 06:43:55 +0100</pubDate>
        </item>
    </channel>
</rss>
