Namaku Zakheus
NAMAKU ZAKHEUS
Aku Zakheus, atau orang sering memanggilku si pendek, si pemeras, si pemungut cukai, si jahat, orang berdosa, dan huh... masih banyak lagi. Aku sangat terkenal di kotaku, tapi terkenal bukan karena sesuatu yang baik dalamku, tapi karena kelakuanku yang jahat di mata mereka. Mereka menganggapku pemeras.
Kaya? Tentu saja aku sangat kaya. Aku punya banyak harta dan kekayaan. Hidupku tak pernah kekurangan, segala sesuatu dapat ku peroleh lewat hartaku. Tapi semuanya itu tidaklah membuat hari-hariku menyenangkan. Sesungguhnya jauh di lubuk hatiku aku sangat menderita, terluka dan tertekan. Hampir setiap malam mungkin aku tidak bisa tidur, selalu murung dan tidak selera makan. Ya walaupun makananku adalah makanan-makanan istimewa dan tentu saja sangat lezat, tapi semuanya itu tidak membuat nafsu makanku muncul. Tiap hari, hanya anggurlah yang menemani malam-malamku yang teramat panjang rasanya.
Satu hal yang tidak pernah bisa ku peroleh dari hartaku adalah kasih sayang. Aku rindu disayangi. Aku sudah bosan mengalami penolakan terus-menerus, dicaci maki, dan dimusuhi. Tak satupun orang yang mau bergaul denganku, aku dikucilkan dari masyarakat.
Aku hampir putus asa. Terkadang aku memilih untuk lebih baik mati dari pada harus menjalani hidup yang sungguh sangat mengerikan seperti ini. Tapi entah mengapa niat itu tak pernah kulakukan.
Sampai suatu hari, aku mendengar kabar bahwa seseorang yang akhir-akhir ini sedang naik daun namanya akan datang melewati kotaku, Yerikho. Sudah cukup sering aku mendengar tentang orang ini. Katanya orang ini sanggup melakukan banyak mujizat, terlalu banyak malah. Dan katanya orang ini melakukan banyak mujizat hanya dengan perkataannya saja. Iblispun takut menghadapinya. Astaga...orang seperti apakah dia ini? Aku sangat penasaran dengan orang ini. Rasa penasaranku semakin hari semakin tak terbendung. Entah apa namanya, tapi hatiku meyakini ada sedikit harapan, jika aku mengenalnya atau minimal melihat wajahnya.
Aku terus menanti akan kedatangan orang ini. Menanti dengan harapan dan kecemasan. Harapan untuk setidaknya dia melakukan sedikit mujizat untukku. Dan kecemasan jika ternyata orang ini tidak jadi melewati kotaku.
Suatu malam, aku tertidur karena meneguk terlalu banyak anggur. Begitu pulas sehingga aku tak tahu lagi keadaan disekitarku. Tiba-tiba aku bermimpi berada dalam sebuah gua yang sangat gelap dan kotor. Kemudian aku melihat ada seberkas cahaya di ujung gua. Dengan hati yang luar biasa bersemangat, aku bergerak mendekati cahaya itu. Aku berlari, berlari dan terus berlari. Guanya terlalu gelap, kakiku yang kecil tak mampu melewati tiap-tiap kerikil besar dengan mulus. Beberapa kali aku jatuh tersandung dan berdarah, namun hatiku tak menyerah untuk segera mendekati cahaya di ujung gua itu. Dengan sisa tenaga yang ada, ku seret kakiku yang berdarah dan sepertinya terkilir, hingga akhirnya aku berhasil mendapati cahaya di ujung gua itu. Ternyata cahaya itu berasal dari langit cerah yang terhampar di hadapanku. Matahari bersinar menghangatkan tubuhku. Aneh, sepertinya sudah ribuan tahun aku tinggal dalam gua itu, tidak melihat cahaya, melihat langit secerah ini, melihat mentari tersenyum dan menghangatkanku.
Aku begitu gembira sampai membuatku berteriak-teriak dan melompat dengan riangnya. Seperti telah bebas dari penjara saja.
Keesokan paginya aku bangun, dan tersenyum. Ya…tersenyum, hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengekspresikan betapa senangnya aku mendapat mimpi itu. Aku tak peduli apa mimpi ini ada karena aku terlalu banyak minum anggur, yang jelas aku sepertinya mendapat kekuatan baru untuk menjalani hari-hariku sebagai…yah…_dengan berat hati aku akan mengatakannya_ pemungut cukai.
Akhir-akhir ini aku sepertinya tidak terlalu suka lagi dengan pekerjaanku ini. Aku merasa semua tekanan yang ku alami berasal dari pekerjaan menyebalkan ini walaupun aku tidak memungkiri akan keuntungan yang ku peroleh dari pekerjaan ini. Sudah lama aku tidak dipanggil dengan nama “Zakheus” lagi. Selalu saja mereka menyebutku dengan nama-nama hinaan. Aku sangat sedih, aku rindu ada yang memanggilku dengan menyebut namaku. Kalaupun ada yang memanggil aku dengan nama “Zakheus”, pasti dibelakangnya ada kata “si pemungut cukai” seolah-olah itu adalah margaku. Apa sebutan itu akan terus menempel dalam hidupku? Adakah orang yang akan menghargai aku dan menerima aku apa adanya? Ini hidupku, adakah yang mau memahaminya? Aku lelah dengan semua ini. Aku muak dengan pekerjaanku!.
Ditengah lamunanku, aku dikejutkan oleh suara orang-orang ramai diluar sana. Segera aku beranjak keluar untuk melihatnya. Aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kulihat malah kerumunan orang-orang yang tidak jelas entah melihat apa.
Aku bertanya pada orang terdekat di sampingku, seorang anak kecil yang ukuran tubuhnya hampir sama denganku. Untungnya masih aku yang sedikit lebih tinggi.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku
“Entahlah, tapi kata Ibuku, seseorang bernama Yesus dari Nazaret sedang menuju kemari.”
“Benarkah itu?” Tanyaku lagi memastikan.
Jantungku benar-benar berdebar dengan keras.
Tiba-tiba anak itu sudah pergi ditarik oleh seorang wanita. Wanita itu menatapku dengan pandangan bermusuhan.
Aku tak peduli dengan perlakuan itu. Jantungku malah berdegup semakin tak karuan mendengar kabar itu. Mataku berbinar-binar menatap kumpulan orang-orang yang sedang menantikan kedatangan orang yang disebut Yesus ini. Ya…dialah orang yang sangat aku nanti-nantikan akhir-akhir ini dan saatnya telah tiba, hari ini!
Karena ukuran tubuhku yang pendek, aku tak dapat melihat dengan baik keadaan di sekelilingku. Yang bisa kulihat hanya seonggokan tubuh-tubuh besar didepanku. Aku tak bisa melihat lebih jauh ke depan. Tapi itu tak membuatku kehabisan akal. Dengan cepat aku menarik seorang pria gemuk di dekatku sehingga ia menoleh ke bawah.
“Hai pria besar. Bisakah kau membantuku melihat orang itu? Sudah lama aku ingin melihatnya.”
“Hai pria pendek, aku terlalu sibuk untuk bisa membantumu. Maafkan aku!”
Sedih mendengar jawaban itu, aku berusaha mencari cara lain. Dari kejauhan aku melihat sebuah pohon ara dengan cabangnya yang banyak. Nalurikku membuatku nekat menerobos badan-badan besar yang sedari tadi menghalangi pandanganku. Dengan bersusah payah akhirnya aku sampai juga dekat pohon ara tersebut.
Memanjat. Aku mulai memanjat pohon ara itu dengan kakiku yang kecil. Memanjat dan terus memanjat, sampai aku tidak tahu sudah berapa luka goresan di kakiku.
Jerih payahku ternyata tidak sia-sia. Kini aku berhasil berada di puncak pohon itu dan meraih salah satu batang yang kokoh dan memeluknya. Kini yang ku lakukan hanya menanti, diiringi degup jantungku yang kian keras saja bunyinya.
Teriakan orang-orang di bawahku semakin riuh ketika sosok yang ditunggu-tunggu itu, Yesus, mulai muncul dari ujung jalan.
“Wah..!” Teriakku tertahan.
Hanya itu kata-kata yang sanggup aku ucapkan ketika untuk pertama kalinya aku melihat wajah Yesus, Semakin Yesus melangkah mendekati pohon ara semakin hatiku tidak karuan rasanya. Semakin erat aku memeluk batang pohon itu, menahan gejolak yang ada dihatiku.
“Zakheus…” Tiba-tiba seseorang berteriak.
Mendengar teriak itu, badanku langsung lemas. Siapakah orang yang memanggilku dengan nama yang selama ini tak pernah ku dengar lagi?
Aku mencari arah suara itu. Dan ternyata itu Yesus! Yesus yang memanggilku. Tanpa ku sadari ternyata dia sudah berada di bawahku. Tapi bagaimana bisa dia mengetahui namaku? Aku tidak pernah bertemu sebelumnya dengan dia apalagi sampai berkenalan? Apakah ini mujizat yang aku cari?
“Segeralah turun, sebab hari ini aku akan menumpang di rumahmu.” Kata Yesus lagi..
Semakin lemas badanku melihat Yesus tersenyum padaku dan menginginkan untuk singgah di rumahku. Aku tak mampu lagi berkata apa-apa saking senangnya. Satu lagi mujizatnya ku dapat. Apalagi ketika aku melihat matanya dan senyumannya, betapa melonjak gembiranya hatiku seolah-olah sudah lama sekali kami tidak bertemu, seperti seorang sahabat lama saja rasanya. Hanya satu kata: “damai”. Itu yang aku rasakan ketika melihat matanya.
Segera aku turun dari pohon ara itu. Semua mata memandangku dan membuatku merasa sangat canggung untuk turun.
Aku tak peduli, langsung aku mendekati Yesus dan memegang tangannya, menuntunnya ke rumahku yang memang tidak terlalu jauh lagi dari pohon ara itu. Ketika sampai di depan rumahku, dengan sigap aku langsung membukakan pintu dan memerintahkan pelayan-pelayan di rumahku untuk menyiapkan santapan istimewa.
Ketika hidangan sudah disajikan, semua duduk melingkar dihadapan meja besar tempat makanan diletakkan.
“Zakheus, kemarilah, duduklah di sampingku dan makanlah bersamaku.” Kata Yesus.
Astaga…satu lagi mujizat aku dapat, aku bisa duduk makan di samping orang yang luar biasa ini. Dengan malu-malu aku datang mendekati Yesus dan duduk di sampingnya. Ku pandangi orang-orang disekelilingku. Semua diam menundukkan kepala. Wajah-wajah murung mulai menghiasi ruangan di sekelilingku. Apa yang terjadi? Apa hidangan ini kurang istimewa? Atau…
Aku menjadi sangat gelisah. Kulihat Yesus disampingku, tapi dia tetap sibuk dengan makanannya. Tampaknya dia sangat menikmatinya. Hal ini membuatku sedikit tenang. Sayangnya ketika aku kembali menoleh ke sekelilingku, perasaanku berubah lagi, membuatku menjadi tidak bernafsu menyantap makanan di hadapanku.
Apa yang menyebabkan orang-orang ini murung dan tidak menyentuh sedikitpun makanan yang disajikan? Air mataku hampir saja menetes melihat keadaan ini. Dan tiba-tiba seorang dari mereka berdiri dan berteriak:
“Ia menumpang di rumah orang berdosa!”
Jantungku hampir putus mendengar teriakan itu. Pedih rasanya…ku lihat Yesus masih terlihat tenang dengan makanannya. Seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan terjadi.
Pikiranku kalut, aku begitu takut jika Yesus akhirnya pergi meninggalkanku. Aku takut Yesus ikut membenciku.
Aku menatap Yesus disampingku. Dia sudah berhenti makan dan mulai menatapku juga. Menatapku dengan lembut, sangat lembut. Membuatku tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Seolah-olah dari matanya aku bisa mendengar dia sedang berkata: “Zakheus, aku mengasihimu.”
Dia menggenggam tanganku sejenak seakan hendak menguatkanku. Dan memang setelah itu aku merasa begitu kuat dan sangat bahagia. Aku bangkit berdiri dan tidak peduli akan pandangan-pandangan menyebalkan disekelilingku, tak peduli lagi akan bisikan-bisikan menyesakkan yang terdengar di ruangan itu.
Aku melangkah menuju dinding yang dihiasi kain merah , membukanya dan mengeluarkan semua uang yang ada di dalamnya. Dengan susah payah, aku peluk semua kantong-kantong uang itu dibalik jubahku.
“Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang-orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang ku peras dari seseorang akan ku kembalikan empat kali lipat”
Segera aku mendekati semua orang yang datang ke rumahku, kubagi-bagikan uang yang kupegang itu. Tak lupa aku juga membagikan sedikit lebih banyak pada orang-orang miskin yang juga turut menyaksikan kedatangan Yesus di rumahku.
Melihat apa yang aku lakukan, Yesus langsung bangkit berdiri dan berseru:
“Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham...”
Mendengar pernyataan Yesus itu, aku langsung bertekuk lutut dan tersungkur di bawah kaki Yesus. Kakiku seperti tidak mampu lagi menopang berat badanku. Yang kulakukan hanyalah menangis, menangis, dan menangis. Rasanya batu besar yang selama ini menekanku terangkat sudah. Aku merasakan kelegaan yang luar biasa. Belum pernah aku merasakan sukacita sebesar ini...
“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” Kata Yesus lagi sambil memelukku.
Sejak peristiwa itu, aku tahu satu hal. Yesuslah yang paling aku butuhkan dalam hidupku, bukan uang, bukan kekayaan. Dan aku telah menemukan yang terpenting itu dalam hidupku, Yesus. Hidupku berubah sejak aku bertemu Yesus. Terimakasih Tuhan Yesus...