DI GEREJA ITU...

Aku melangkah dengan terburu-buru. Rasanya sudah tidak sabar ingin mendengarkan Firman Tuhan dan menyembah-Nya. Ya.. itu yang aku rasakan waktu itu, saat dimana aku untuk pertama kalinya mendapat pekerjaan sebagai seorang sales disebuah perusahaan yang tidak terlalu terkenal dan jauh dari kota kelahiranku. Di sana aku bingung mau beribadah dimana, soalnya lingkungan itu masih terlalu asing bagiku. Kota itu pun memang baru pertama kalinya aku kunjungi. Begitu melihat sebuah plakat gereja bertuliskan “Eibisi Church 100 meter lagi” langsung saja aku kemudikan sepeda motorku menuju lokasinya.

Astaga! Sesampainya disana ternyata ibadah telah dimulai. Dari luar gerbang gereja terdengar lagu-lagu pujian yang megah dan suara sorak-sorai jemaat yang sedang menyembah. Hatiku sudah tidak sabar lagi ingin bergabung dengan mereka, lagipula sepertinya gereja ini asyik juga, halamannya bersih sekali.

Begitu memasuki halaman gereja, suasana teramat damai langsung terasa. Membuat aku ingin bernyanyi sekencang-kencang dan semerdu-merdunya buat Tuhan. Hebat..! Dari luar saja hadirat Tuhan begitu terasa, apalagi pada saat ibadah nanti, aku yakin akan lebih dahsyat lagi..! Pikirku dalam hati sambil menuju ke parkiran.

Setelah menemukan posisi parkir yang bagus, langsung saja aku masuk ke dalam gereja. Sepertinya lututku ingin berlari agar cepat sampai, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang karena jika aku sampai keringatan masuk ke gereja bisa berbahaya.

Begitu kepalaku menyusup memasuki pintu gereja, astaga! Jemaatnya banyak sekali, jangan-jangan aku akan berdiri terus sepanjang ibadah nanti karena tidak mendapat kursi. Tapi untung saja para pengerjanya tanggap semua. Mereka langsung menawarkan satu kursi disudut belakang untukku. Dengan semangat '45 aku berterimakasih kepada mereka. Sepertinya mereka tau kalo aku baru pertama kalinya ikut beribadah di sini, kelihatan sekali dari cara mereka yang teramat ramah terhadapku.

Begitu aku sudah duduk, aku heran, suasananya berbeda. Suasana damai yang aku rasakan di parkiran tadi sepertinya hilang begitu saja. Aku kira suasana damai itu akan lebih dahsyat kalau sudah di dalam gereja, tapi nyatanya damai itu sepertinya tidak ada. Sirna begitu saja..

Sepanjang ibadah, aku sama sekali tidak nyaman mengikutinya. Seperti ada yang berbeda dalam diriku, ya itu terasa sekali, dan tidak biasanya aku seperti ini. Tanpa henti aku bertanya pada Tuhan apa yang terjadi dalam diriku, kenapa aku malah tidak bisa merasakan hadirat Tuhan di gereja ini. Apa aku belum mengakui dosaku? Tapi sepertinya hubunganku dengan Yesus baik-baik saja . Tuhan beri tahu aku apa yang salah dalam diriku..

Sepulang dari ibadah aku terus bertanya-tanya pada Tuhan apa yang terjadi padaku, tapi Tuhan sepertinya tidak merespon sama sekali. Ya sudah aku mencoba berpikir positif, mungkin aku lagi kecapaian. Baru semalam aku tiba di kota ini, perjalanan dua hari dalam bus sungguh sangat menguras tenaga. Belum lagi aku harus tidur jam 2 pagi, karena tersesat..he..he..tetapi aku bersyukur karena dengan mengalami hal ini aku melihat Tuhan setia menolong aku, aku jadi bertambah yakin kalau Dia selalu menjagaku. Terimakasih Tuhan

Tidak terasa sudah seminggu aku tinggal di kota ini. Kehidupan yang ku jalani memang agak berbeda. Aku sekarang seorang sales. Setiap hari aku jarang di rumah kontrakan ku yang kecil, kebanyakan di luar menghadapi konsumen yang rata-rata pelit semua..he..he..tidak mau beli soalnya.

Dan hari minggu pun datang lagi, aku sudah tidak sabar untuk datang ke gereja yang kemarin. Hari ini aku tidak boleh telat. Langsung aku beres-beres dan bergegas ke gereja yang kemarin.

Antara sadar dan tidak, aku ternyata lupa lokasi gerejanya. Memang kemarin itu aku mencarinya asal saja, tidak melihat rambu jalan yang penting dapat gereja. Seingatku jalan-jalannya banyak masuk gang, belok kiri belok kanan dan...astaga! Aku lupa sama sekali. Bagaimana ini..? Apa aku harus mencari gereja yang lain lagi? Tapi aku ingin di situ lagi. Entah kenapa hatiku begitu menggebu-gebu untuk ibadah disitu lagi.

Lama berpikir sambil berkeliling tidak tentu ke mana sampai hampir menabrak ayam orang, akhirnya aku teringat kalau kemarin penerima tamu yang ramah sekali itu memberikan kartu alamat gerejanya padaku. Untung saja aku masih menyimpannya dalam dompetku. Segera aku hentikan sepeda motorku dan mengambilnya dari dompetku. Kulihat alamatnya ternyata di jl. Perjanjian 12. Astaga dimana pulakah jalan perjanjian ini ya?

Tanpa pikir panjang aku langsung menemui seorang wanita gemuk yang sedang duduk di halte bis. Sepertinya dia akan ke gereja, kelihatan sekali dari Alkitab yang dia pegang.

“Selamat pagi mbak.. jalan Perjanjian 12 dimana ya?”

Sesaat dia memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah, melirik motor ku dan mulai tersenyum mencurigakan.

“Oh saya tahu, ini juga mau ke sana. Kamu orang baru ya? Mau gereja juga kan? Kalau begitu bolehkah saya menumpang? Kita satu tujuan dan dari tadi bisnya tidak kunjung datang padahal ini sudah telat. Boleh ya?”

“Oh..boleh, mari..” Kataku mengajak.

Aku sedikit takut memang, soalnya wanita ini besar sekali, takutnya aku tidak mampu menjaga keseimbangan. Bukannya ke gereja malah ke klinik karena kecelakaan nantinya. Tapi ya sudahlah, aku yakin aku harus bisa. Kami pun mulai berkenalan.

Untung saja perjalanan tidak terlalu jauh lagi, aku sepertinya agak kurang cocok dengan wanita ini, percakapan kita dari tadi terasa sangat membosankan. Wanita ini malah tidak bisa diam, jadinya aku harus mendengarkan celotehnya sepanjang perjalanan. Cuma bisa berkomentar seadanya, sekadar menghargai dia karena sudah mau menunjukkan gereja ini.

Sesampainya di gerbang gereja wanita ini tiba-tiba menepuk-nepuk punggungku dengan kerasnya.

“Cukup disini saja. Jangan sampai pacarku melihat aku dibonceng pria lain, nanti dia marah sekali. Terimakasih sudah mau mengantarku.” Katanya sambil bergegas pergi.

Untuk kedua kalinya aku telat lagi. Tapi syukurnya aku bisa sampai ke gereja dengan selamat. Terimakasih Tuhan..

Dan seperti minggu-minggu sebelumnya, hadirat Tuhan itu begitu terasa dari luar gereja, apalagi lagu-lagu pujian yang dilantunkan dari dalam gereja membuatku sudah tidak sabar ingin segera beribadah. Segeraku parkirkan sepeda motorku di tempat biasa. Ups..walau sudah tidak sabar ingin bersekutu, aku juga harus tetap menjaga emosi, jangan sampai aku berlari dan akhirnya berkeringat. He..he..

“Wah Bapak, telat lagi..ayo pak cepat..” Kata penerima tamu yang kemarin dengan senyum ramahnya sambil menyodorkan selebaran warta jemaat.

“Iya, tadi keliru di tengah jalan..” Kataku sambil bergegas masuk.

Malu juga, tapi ya sudahlah yang penting aku bisa tetap ikut ibadah.. cuma telat 15 menit saja ternyata, pikirku dalam hati.

Dan lagi-lagi aku tidak mengalami hadirat Tuhan sepanjang ibadah. Aku bingung, aku kenapa ya..? Kenapa aku cuma merasakan hadirat Tuhan sebentar saja, itupun kalau sedang di parkiran. Aku gelisah dan mulai keringat dingin. Aku mulai memandangi sekelilingku, aku berpikir apa mereka juga mengalam hal yang sama denganku. Namun sepertinya tidak, mereka semua kelihatan sangat menikmati ibadah ini. Cuma aku yang hanya diam terpaku dan tidak tahu mau berbuat apa. Aku bertanya pada Tuhan, tapi sepertinya tidak ada jawaban. Aku jadi bertambah bingung..apa yang salah dengan diriku..Tuhan aku mohon tolong aku..!

Sudah sebulan berlalu aku masih saja beribadah di gereja yang sama. Entah mengapa hatiku selalu menggebu-gebu kalau teringat gereja itu. Padahal aku merasa sepi di sana, aku tidak merasakan kehangatan hadirat Tuhan yang selalu aku rasakan setiap kali memarkirkan sepeda motorku.

Sampai suatu minggu, aku kembali lagi untuk beribadah ke gereja itu. Namun kali ini agak sedikit berbeda, aku memutuskan untuk beribadah di parkiran saja, aku tidak tahan cuma bisa terpaku saja melihat orang-orang yang ada di sana, aku juga rindu beribadah seperti mereka, penuh dengan sorak-sorai penyembahan.

Sambil memastikan kalo parkiran telah sepi, aku mulai mencari-cari posisi yang teduh untuk duduk. Dan begitu ibadah dimulai, betapa luar biasa rasanya. Ya.. aku merasakan kalau hadirat-Nya terasa sekali. Begitu hangat..

Aku mulai memuji dan menyembah, air mataku pun tanpa terasa mulai mengalir deras tak terbendung, aku menangis tapi hatiku begitu bersukacita. Perasaanku begitu meluap-luap. Baru kali ini aku mengalami hal ini. Aku terus menyembah dan bernyanyi untuk Allah, sampai badanku rasanya seperti diguncang-guncang dengan kerasnya. Aku tidak sanggup mengendalikan seluruh tubuhku, bahkan untuk bernyanyi saja sepertinya tidak sanggup.

Badanku terus berguncang semakin tidak beraturan dan suasana di sekitarku mulai terasa panas sekali. Tiba-tiba mataku seperti didorong untuk terbuka. Aku mencoba melawan namun tidak bisa, seperti ada yang memaksa mataku untuk terbuka. Dan akhirnya aku membuka kedua mataku.

Astaga..apa yang aku lihat ini..? Aku melihat tempat parkiran dipenuhi oleh asap yang sangat putih. Dan tepat di hadapanku aku melihat sesosok putih yang sangat terang. Rambutnya emas berkilauan dan wajahnya begitu bercahaya. Aku tidak dapat dengan jelas melihat wajah-Nya, namun aku dapat merasakan Dia sedang tersenyum memandangku.

“Selamat pagi anakKu. Ini Aku, Tuhan dan Bapamu.”

Mendengar suara itu lututku terasa tidak sanggup lagi untuk berdiri. Rasanya hatiku sangat meluap-luap mendengar suara-Nya. Sapaan-Nya membuat aku sangat nyaman n merasa tersanjung sekali, ingin menangis saja rasanya.

Son, bolehkah Aku mencurahkan isi hatiku padamu?” Kata Tuhan Yesus padaku.

Tuhan, suatu kerinduanku boleh tahu isi hati-Mu” Kataku sambil terisak-isak bahagia.

Kamu tahu mengapa kamu selalu merasakan hadiratKu hanya diluar gereja, sementara di dalam sepertinya kamu tidak menemukanKu?”

Tuhan, aku bingung, sudah sebulan aku beribadah di sini, tapi mengapa aku merasakan hadirat-Mu hanya saat di parkiran saja? Apa yang salah dalam diriku Bapa, ampuni aku..” Kataku cemas.

Son, jangan takut sayang. Kamu tahu apa yang terjadi dengan gereja ini?”

Tidak Tuhan, ada apa dengan gereja ini?”

Tiap minggu mereka tekun beribadah, tapi tidak pernah mereka mengundang Aku untuk masuk. Mereka hanya mengijinkan Aku hadir diluar pintu gereja. Mereka menyembah Aku hanya untuk mengejar berkat, bukan karena merindukan Aku. Padahal tiap saat Aku selalu merindukan jemaat-Ku di tempat ini. Mereka hanya sibuk dengan urusan gereja, mereka seolah-olah tidak mau tahu isi hati-Ku untuk mereka. Mereka sibuk memikirkan bagaimana caranya mempertahankan jemaat agar tidak pergi ke gereja lain, sibuk dengan program-program yang sebenarnya tidak perlu. Mereka paling benci kalau sampai persembahan jemaat sampai ke gereja lain, bukan ke gereja mereka. Padahal Aku lebih senang dengan ibadah yang walaupun sedikit yang menjadi jemaat, namun mereka betul-betul mencari Aku, mengasihi aku, dan pasti Aku akan hadir di sana. Kamu lihat, jemaat di sini semua orang kaya, lihatlah mobil-mobil mewah yang berderet rapi di parkiran. Itu semua Kuberikan agar mereka melihat kebaikan-Ku. Tapi sepertinya mereka tidak tahu berterima kasih. Bukannya bersyukur, malah lebih gila lagi memburu uang. Sepertinya uang adalah segalanya bagi mereka. Lagi-lagi mereka datang cuma untuk mengejar berkat-Ku.

Aku sangat sedih melihat jemaat-Ku saat ini. Padahal Aku sudah punya rencana besar buat setiap orang dari mereka. Mereka akan menjadi pembuat sejarah dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di tengah-tengah dunia ini. Namun rencana itu selalu tertunda karena ulah mereka yang tidak peduli dengan isi hati-Ku dan rencana besar-Ku buat mereka.

Son..ketahuilah, bahwa di akhir zaman ini Aku akan membuat pemulihan besar-besaran diseluruh dunia melalui gereja-Ku. Namun aku hanya akan memakai gereja yang siap dan mengasihi-Ku.

Dan untuk menggenapi hal itu, Aku akan terlebih dahulu melakukan transformasi di tubuh gereja-gereja diseluruh dunia melalui hamba-hamba-Ku yang telah Ku pilih dari segala bangsa sejak mereka dalam kandungan. Aku telah mencurahkan visi itu di hati mereka.

Son..kaulah salah satunya. Maukah engkau Aku utus?”

“Tuhan Yesus, suatu kemuliaan bagiku bisa melayani-Mu Tuhanku, ya..aku mau Tuhan. Ini aku Utuslah aku..” Kataku sambil mulai menangis gembira.

“Son itu yang selalu Aku cari..hati seorang hamba yang mau taat. Dan saat ini, persiapkanlah dirimu, sebab Aku akan mencurahkan urapan-Ku kepadamu” Kata Tuhan sambil mulai menjamah kepalaku.