Mereka datang. Kira-kira ada lima orang pria, datang ke rumahku di suatu sore. Mereka masuk dan segera duduk membentuk setengah lingkaran. Aku datang menghampiri mereka dan duduk menghadap mereka semua. Kemudian aku mulai berbicara pada mereka semua. Hatiku sangatlah berapi-api ketika sedang berbicara pada mereka. Aku membagikan Firman Tuhan untuk para pria yang datang bertamu ke rumahku ini. Sungguh, hatiku begitu meluap-luap ketika sedang membagikan firman Tuhan. Mataku begitu berbinar-binar ketika menatap mereka masing-masing. Aku begitu bersemangat, sangat bersemangat sekali.

Namun, walau aku begitu berapi-api, ada sesuatu yang lain dari para pria yang datang ini. Hal ini terlihat jelas dari wajah mereka. Aku melihat sepertinya wajah mereka menunjukkan ketidakmengertian,tapi tetap saja mereka seperti serius mendengarkannya, meski dengan kening yang berkerut dan mata yang penuh keheranan.

Ku tak peduli. Ku tetap saja terus berbicara dan berbicara. Bahkan ekspresi ketidak mengertian mereka membuatku tambah berapi-api lagi ketika berbicara.

Tiba-tiba aku seperti tersadar. Aku mendengarkan suaraku sendiri. Sambil terus berbicara, aku mendengar suaraku sendiri. Dan anehnya, aku tak mengerti apa yang aku katakan. Aku mengeluarkan suara-suara yang sangat tidak jelas. Dan kini ku sadari apa penyebab ketidakmengertian para pria ini. Ternyata mereka sama sekali tidak mengerti apa yang aku katakan, dan parahnya aku sendiripun sama sekali tidak tahu!.

Tapi walau begitu, tetap saja aku ngomong dengan lancar. Sepertinya mulutku ini bergerak sendiri. Aku mulai bingung. Apa yang terjadi dengan diriku? Pikirku.

Ku coba untuk melawan mulutku sendiri yang terus berkata-kata tanpa hentinya. Namun sangat susah. Mulutku terasa sangat berat ketika aku berusaha untuk berkata: “Saudara-saudara”.

Sama sekali tak mampu aku lawan, dan akhirnya aku menyerah.