Di suatu malam, aku keluar dari kamarku dan melihat ada begitu banyak stoples kue dan gelas-gelas ditelungkupkan diatas meja. Sepertinya baru saja ada pesta, atau tahun baruan, atau apalah, aku tak tahu. Tapi memang keadaan rumah begitu penuh dengan gelas dan stoples yang baru dicuci.

Aku beranjak keluar untuk menghirup udara malam yang sejuk. Dan ketika aku keluar, betapa terkejutnya aku!

Aku melihat langit malam itu terbuka. Seolah-olah tak ada lagi pembatas antara langit dan bumi. Aku sangat takjub melihat pemandangan itu. Sungguh sangat-sangat menggetarkan hati. Perasaan takjub dan heran melingkupiku.

Disana aku bisa melihat luar angkasa dengan sangat jelas dari depan teras rumahku. Aku melihat ada tiga benda angkasa tepat berada di depan mataku. Ukuran mereka sangatlah besar dan mereka berderet menghadapku. Mereka ada yang memakai cincin seperti planet jupiter, ada yang permukaannya seperti ditutupi debu halus (sepertinya planet mars), dan yang lain bulat dan membentuk seperti sebuah pola pada permukaannya (sepertinya ini planet venus). Ketiganya berwarna abu-abu. Sangat besar. Mereka sangat besar, tidak seperti bulan purnama yang biasa kita lihat. Ini ukurannya jauh berlipat kali lebih besar, seperti melihat sebuah gunung dari dekat.  Aku sangat takjub!

Kemudian aku menoleh kesebelah kananku. Disana aku melihat begitu banyak benda-benda angkasa yang berwarna-warni bertaburan di langit. Mereka seperti permata yang berkilau-kilauan. Begitu indah. Pemandangan disebelah kananku ini beda dari yang didepanku. Disini penuh dengan warna-warna cerah, namun ukurannya jauh lebih kecil dari tiga planet tadi. Ukurannya tidak lebih besar dari bulan purnama, namun tidak lebih kecil dari bintang yang biasa kita lihat.

Disana aku melihat sebuah benda bulat bersinar, berwarna kuning sedang bergerak melintas diantara kumpulan benda-benda langit yang seperti permata itu. Benda berwarna kuning itu seperti planet jupiter, dia memiliki cincin. Dia terus bergerak melintas, dan lintasannya itu membentuk setengah lingkaran,  kemudian menghilang seperti menembus langit. Aku berpikir, bukankah planet bercincin itu tadi ada didepanku dan warnanya abu-abu dan sangat besar. Tapi sekarang mengapa jadi berwarna kuning, bergerak dan kecil..? Apa benda ini telah pindah tempat? Pikirku.

Aku menoleh lagi kedepanku untuk melihat ketiga planet yang sangat besar tadi. Dan ternyata planet bercincin itu masih tetap ditempatnya dan tak bergerak sama sekali. Aku menjadi kebingungan, mengapa benda ini ada dua dengan ukuran dan warna yang berbeda ya..?

Akhirnya kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah dan memberitahukan kepada kakak-kakak dan adik-adikku tentang hal ini. Karena aku yakin mereka pasti akan sangat takjub melihatnya. Dan memang pemandangan langit itu sungguh sangat menakjubkan dan menggetarkan hati.

Aku masuk ke dalam rumah dan dengan semangat yang sangat menggebu-gebu aku memanggil mereka untuk melihat ke langit di luar. Mereka turut antusias mendengar ajakanku. Dengan segera mereka berlari keluar rumah bersama ku.

Tapi, betapa terkejutnya aku ketika melihat, ternyata langit malam itu telah berubah. Tidak sama seperti yang kulihat pertama sekali. Ketiga planet yang sangat besar yang berderet tepat di langit didepanku tadi  sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanya hamparan benda-benda angkasa yang seperti permata berwarna-warni yang sangat indah terdapat disana. Aku sedikit kecewa karena tidak berhasil menunjukkan pada mereka apa yang aku lihat barusan. Walau begitu mereka tetap bersemangat ketika melihat hamparan pemandangan langit disebelah kanan kami.  Mereka sama-sama takjub melihat pemandangan itu.

Akhirnya kami masuk kembali ke dalam rumah. Aku betul-betul heran mengapa ketiga planet besar itu menghilang begitu saja. Dan aku menyesalkan kenapa cuma aku saja yang melihat hal yang luar biasa ini.

Di dalam rumah, aku menemukan sebuah koran tergeletak di dekat stoples kaca yang baru dicuci tadi. Aku mengamati koran tersebut, dan menyadari bahwa koran itu ternyata koran berbahasa batak. Ketika menyadari hal ini, aku merasa geli juga, karena baru kali ini aku melihat koran berbahasa batak Toba.

Mataku tertuju pada sebuah judul besar di koran tersebut. Aku memperhatikan judulnya bertuliskan “HOLAN JESUS DO SI............”

Aku sangat takjub dengan judul itu. Tapi aku tidak mengerti akan artinya karena kata terakhir merupakan kata dalam bahasa batak yang baru pertama kali aku dengar. Aku berencana menanyakan arti judul itu kepada orang tuaku. Tapi yang ku jumpai disana adalah tetanggaku yang memang sering bertandang ke rumah. Dia sudah cukup berumur dan memiliki cucu. Dia memberi jawaban, namun jawabannya seperti samar ditelingaku.