Kata “Kristen” hanya disebut enam kali dalam Alkitab. Sekalipun hanya sedikit, tetapi pengertiannya sangat dalam. Paling tidak ada tiga pengertian dari kata “Kristen”, yaitu:

Pertama, pengikut Kristus. Kristen (Ynn, christianos), berarti pengikut Kristus. Sebutan ini untuk membedakan dengan kelompok-kelompok murid yang lain, yang mempunyai guru mereka masing-masing. Di samping itu, sebutan ini untuk menunjukkan bahwa yang menjadi teladan dan pemimpin di dalam kehidupan mereka adalah Kristus. Tidak mengherankan kalau kemudian mereka rela hidup sederhana dan juga mati sebagai martir. Satu hal yang dituntut dari para pengikut Kristus adalah sebagaimana Kristus menjadi terang dunia, demikian juga mereka harus menerangi dunia dengan tindakan nyata berdasarkan kebenaran dan kasih.

Kedua, penerima anugerah. Sebutan “Kristen” diberikan kepada murid-murid atau pengikut Kristus yang berasal dari non-Yahudi. Sedangkan untuk murid-murid atau pengikut Kristus yang berasal dari Yahudi disebut Nasrani. Ini memberikan kejelasan bahwa mereka adalah orang-orang yang menerima anugerah. Ini diakui oleh orang Nasrani setelah mereka mendengarkan penjelasan Petrus, “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” (Kis 11:18)

Ketiga, sarana untuk mempersatukan. Injil Kerajaan Sorga terus menyebar dan banyak orang yang percaya. Latar belakang suku bangsa yang berbeda, tingkat social dan pendidikan yang juga berbeda, tidak akan membuat orang yang percaya tersebut terpecah belah selama identitas “Kristen” itu tetap ada dan dipraktekkan secara nyata dalam kehidupan mereka.

Seharusnya kita bangga sebagai orangKristen. Tetapi bangga saja tidak cukup. Kita harus menampakkan di dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus yang sejati. Kesederhanaan, belas kasihan, kekudusan, dan pengorbanan adalah hal-hal yang harus kita wujudkan. Disamping itu, kita juga harus mewujudkan persatuan di antara pengikut Kristus yang ada di sekitar kita, serta keberanian untuk mempertahankan iman dan kebenaran.

Tidak ada artinya seseorang menyandang “gelar” Kristen kalau dia tidak mewujudkan di dalam hidupnya.


Manna Sorgawi, edisi Oktober 2010